Semalam, ketika kami sekeluarga sedang makan sate dan tongseng bersama di RM Pak Min, gadis-gadisku dengan semangat mulai bercerita mengenai teman mereka yang bernama Sudarman.
Sekar: "Masa bun, di sekolahku ada anak namanya Sudarman, dia kelahiran 1997, tampangnya emang kelihatan lebih tua sih."
Sekar kelahiran Januari 2000, sekarang kelas 8 sementara Amira kelahiran November 2001, sekarang kelas 7, keduanya bersekolah di SMPN 3 Depok.
Sekar: "Mungkin baru punya uang ya Bun buat sekolah?"
Bunda: "Menurut bunda, mungkin karena ada program sekolah negeri wajib menerima murid yang kurang mampu 20% dari jumlah murid yang sekolah terima."
Amira: "Iya ma, bisa jadi. Dia kelasmya di sebelah aku loh, kelas 7-6."
Sekar: "Sudarman ini jualan kacang, ada dua macam, yang satu asin terus satunya manis. Sebenarnya kacangnya enggak terlalu enak, tapi kemarin aku beli 10."
Amira: "Kacangnya tuh di plastik segini nih, harganya seribu satunya. Biasanya dia bawa 2 kantong plastik." Sambil memperagakan ukuran tinggi plastik dengan jarinya."
Sekar: " Sudarman itu kalau nawarin kacangnya ramah banget, pakai ngomong 'assalamaualaikum, kakak mau beli kacang nggak?' tadinya aku enggak pingin beli. Terus aku tanya kenapa kamu jualan kacang? Kata Sudarman di bantuain ibunya buat bayar kontrakan. Ya udah hari pertama aku beli satu, terus besok-besoknya dua, tiga terus kemarin sepuluh Bun. Anak-anak cowo yang biasanya acuh aja pada beli."
Amira: "Kemarin kan dia masuk kelas aku, kacang tinggal Satu, temen-temen aku sampai berebutan....ada yang nekat mau bayar double."
Aku bertanya "Apa yang kalian pelajari dari kisah Sudarman?"
Amira dan Sekar kompak menjawab "bersyukur!!!"
Ya anak-anakku, kita wajib bersyukur atas rezeki yang berlimpah yang diberikan Allah kepada kita. Tidak sekalipun kita kekurangan makan, malah kita tinggal memilih menu apa yang kita mau. Alhamdulillah....semoga Sudarman diperluas rezekinya olwh Allah SWT. Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar