Duduk berjam-jam setiap hari, selama seminggu belakangan ini, bisa menjadi tempat untuk belajar. Kali ini aku belajar mengenai cinta kasih dan harapan.
Rumah sakit ini hanya punya seorang psikolog, jadwal prakteknya pun hanya hari Selasa dan Jumat, dalam sehari pasien yang mau diterapi pun sangat terbatas. Ternyata alasan utama membatasi pasien. Karena psikolog membawa masalah yang dihadapi pasiennya ke dalam hati, sehingga ada keterbatasan jumlah agar tidak terjadi kelelahan batin beliau.
Sejak Jumat lalu Kami minta jadwal, baru siang ini jadwal didapat. Psikolog mengunjungi mama dan memulai bercakapan, berupaya keras mengungkapkan kendala batin yang dihadapi mama, lebih dari 30 menit mengajak mama untuk berbicara, tak lebih dari 10 kata yang dikeluarkan dan sebagian besar hanya jawaban "iya".
Ayukku diajak bicara oleh psikolog, hampir satu jam. Psikolog sampai pada satu kesimpulan, aksi mama tidak mau untuk sekedar berupaya untuk makan atau sekedar memiringkan tubuhnya bukan karena depresi seperti dugaan semua, namun karena mama sudah dalam fase "hopeless". Rasa itu datang dari dalam diri mama sendiri. Beliau memiliki stigma bahwa tidak ada lagi harapan untuk dirinya untuk terus hidup.
Terapi tidak mungkin lagi diteruskan, kami diminta untuk berupaya agar mama jangan sampai merasa "lonely". Kami diminta terus mendampingi beliau sekalipun beliau hanya berbaring dan terus mengajak bicara dan cerita, walau mama hanya diam saja.
Ya Rabb...Kau tunjukkan pada kami kesabaran untuk terus mencintai mama, menanamkan harapan atas kesembuhan mama.
Ya Rabb....kami Ikhlas atas semua ini, Kami yakin Kau akan memberikan yang terbaik untuk mama. Aamiin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar